Pajak Penghasilan PPh 21

CARA MENGHITUNG PAJAK PENGHASILAN PPh 21

Objek PPh Orang Pribadi adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Orang Pribadi, baik yang berasal dari Indonesia atau dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan bentuk apapun.

Subjek Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan disebut Wajib Pajak. Subjek pajak orang pribadi mempunyai kewajiban pajak salah satunya yaitu Pajak Penghasilan PPh 21.

A.Objek pajak dalam PPh 21.

1.Gaji.

2.Upah.

3.Honorarium.

4.Tunjangan (Premi jaminan kecelakaan kerja dan kematian dibayar oleh Pemberi kerja).

5.Bonus.

6.Uang Pensiun.

7.Komisi.

8.Hadiah atau penghargaan sehubungan dengan perlombaan.

9.Atau Imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang.

B.Pengurang Penghasilan Bruto.

1.Biaya jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang dapat dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai tetap tanpa memandang memandang mempunyai jabatan atau tidak.

Biaya Jabatan (5 % X Gaji Bruto), yang diperkenankan adalah < Rp.108.000,-sebulan atau < Rp.1.296.000,- setahun.

UU 2008 (Berlaku Jan 2009) yang diperkenankan adalah < Rp.500.000,- sebulan atau < Rp.6.000.000,- setahun.

2.Iuran yang dibayar Sendiri oleh Pegawai.

a.Iuran Pensiun yang dibayar sendiri.

b.Iuran Tunjangan Hari Tua yang dibayar sendiri.

Iuran Pensiun dan THT yang dibayarkan oleh pemberi kerja bukan merupakan penghasilan dan tidak boleh menjadi pengurang dari penghasilan bruto.

3. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Sekarang

a.Wajib Pajak                                       Rp. 13.200.000,-

b.WP Kawin                                          Rp.   1.200.000,-

c.Istri Bekerja                                      Rp. 13.200.000,-

d.Tanggungan                                      Rp.   1.200.000,-

Maks.Tanggungan 3 orang

UU 2008 (Berlaku Jan 2009)

a.Wajib Pajak                                       Rp.15.840.000,-

b.WP Kawin                                          Rp.  1.320.000,-

c.Istri Bekerja                                      Rp.15.840.000,-

d.Tanggungan                                      Rp.  1.320.000,-

Maks.Tanggungan 3 orang

Apabila suami dan istri melakukan pisah harta dan masing2 mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), maka:

a.PTKP suami sebagai kepala Kelurga terdiri dari WP, WP Kawin dan Tanggungan

b.Sedangkan PTKP istri hanya WP(Wajib Pajak) sendiri saja, kecuali apabila suami tidak mempunyai penghasilan maka PTKP yang lain boleh dimasukkan kedalam PTKP istri.

C.Tarif Pajak PPh 21

Lapisan Pengah asilan Kena Pajak Tarif

1.s/d. Rp.25 Jt                                            5 %

2.Diatas Rp. 25 Jt s.d Rp. 50 Jt          10 %

3.Diatas Rp. 50 Jt s.d Rp.100 Jt         15 %

4.Diatas Rp.100 Jt s.d Rp.200 Jt        25 %

5.Diatas Rp.200 Jt                                    35 %

UU th 2008 (Berlaku Jan 2009)

Lapisan Pengahasilan Kena Pajak Tarif

1.s/d. Rp.50 Jt                                             5 %

2.Diatas Rp. 50 Jt s.d Rp.250 Jt          15 %

3.Diatas Rp.250 Jt s.d Rp.500 Jt        25 %

4.Diatas Rp.500 Jt                                     30 %

D.Norma Penghitungan Penghasilan Netto

Batas peredaran usaha untuk dapat menggunakan norma penghitungan penghasilan netto dinaikan dari semula Rp.600 juta menjadi sebesar Rp.4.8 miliar(Undang-Undang Pajak Penghasilan yang berlaku pada tanggal 1 Januari 2009).

E.Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

Merupakan Nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang digunakan sebagai identitas WP dalam melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai Wajib Pajak.

Sehubungan akan diberlakukannya amandemen Undang-Undang Pajak Penghasilan yang berlaku pada tanggal 1 Januari 2009;

1.Bagi Orang Pribadi yang telah berusia 21 tahun dan tidak memiliki NPWP yang bertolak keluar negeri wajib membayar Fiskal Luar Negeri, sedangkan jika memiliki NPWP dibebaskan dari pembayaran Fiskal Luar Negeri.

2.Bagi Karyawan/Pegawai yang tidak memiliki NPWP dikenakan PPh 21 dengan tariff 20% lebih tinggi dibandingkan tarif normal yang berlaku.

Cara Menghitung:

1.Penghasilan Bruto                                                                       …………….. a

2.Pengurangan yang diperkenankan

(Biaya jabatan, Pensiun & THT dibayar sendiri)              …………….. – b

3.Penghasilan Netto                                                                    = ……………… c

4.Dikurangi PTKP

(Penghasilan Tidak Kena Pajak)                                               .…………….. – d

5.Penghasilan Kena Pajak (PKP)                                             = ……………… e

6.Pajak PPh 21 = PKP X Tarif Pajak.

Contoh penghitungan PPh 21:

Pak Reynaldi bekerja degan gaji seblulan Rp.3.500.000- dan membayar iuran pensiun Rp.100.000,-. Reynaldi menikah dan mempunyai satu anak.

Gaji Sebulan Rp. 3.500.000,-

Pengurangan:

Biaya jabatan   (5 % X Rp.3.500.000,-)                          = Rp.175.000)

Yang diperkenankan Rp.108.000 sebulan                        Rp. 108.000,-

Iuran Pensiun                                                                                 Rp. 100.000,-

Penghasilan Netto sebulan                                                       Rp. 3.292.000,-

Penghasilan Netto Setahun

(12 x Rp.3.292.000,-)                                                              Rp.39.504.000,-

Dikurangi PTKP setahun

WP sendiri         Rp.13.200.000,-

WP Kawin         Rp. 1.200.000,-

Tanggungan       Rp. 1.200.000,-                                       Rp. 15.600.000,-

Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. 23.904.000,-

Pajak PPh 21 atas Gaji Setahun: Rp. 1.195.200,-

(5 % X Rp.23.904.000,-)

Pajak PPh 21 atas Gaji Sebulan: Rp. 99.600,-

(Rp. 1.195.200,- : 12)

Norma Penghasilan Netto

Apabila Pak Rey..Reynaldi ternyata mempunyai wirausaha toko keperluan rumah tangga (toko kelontong). Omzet setahun Rp.100 Jt. Norma untuk jenis usaha toko kelontong di Jakarta adalah 30% berarti laba bersih (penghasilan netto) Pak Reynaldi adalah Rp.30.000.000,- (Rp.100 Jt X 30 %)

Penghasilan Netto Setahun

Penghasilan Netto gaji (12 x Rp.3.292.000,-)                   Rp.39.504.000,-

Pengahasilan Netto Toko kelontong                                      Rp.30.000.000’-

Rp.69.504.000,-

Dikurangi PTKP setahun

WP sendiri           Rp.13.200.000,-

WP Kawin            Rp.   1.200.000,-

Tanggungan         Rp. 1.200.000,-                                           Rp. 15.600.000,-

Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. 53.904.000,-

Pajak PPh 21 Setahun:

5% X Rp.25.000.000,-            = Rp.1.250.000,-

10% X Rp.25.000.000,-          = Rp.2.500.000,-

15% X Rp. 3.904.000,-           = Rp. 585.600,-

Rp.4.335.600,-

Pajak PPh 21 Sebulan:

(Rp.4.335.600,- : 12) =                                                     Rp. 361.300,-

Norma penghitungan penghasilan Netto diatur lebih lanjut dalam KEP 536/PJ/2000 yang menjelaskan bahwa Norma tersebut diberlakukan secara regional dan terdapat lampiran sendiri yang membagi-bagi tiap jenis usaha kedalam kelompok Norma tertentu.

Penggunaan norma memiliki keuntungan berupa kesederhanaan dalam penghitungan serta pengadministrasian catatan, wajib pajak tidak perlu menguasai akuntansi tetapi kerugiannya yaitu relatif tingginya pajak yang harus dibayar karena tingginya tarif norma serta akan dianggap selalu untung dan tidak mungkin membukukan rugi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: